MAKALAH ETIKA PROFESI STUDI KASUS TOXIC SPILL (TUMPAHAN MINYAK DI TELUK MEKSIKO

MAKALAH ETIKA PROFESI STUDI KASUS TOXIC SPILL (TUMPAHAN MINYAK DI TELUK MEKSIKO)





 






Disusun oleh:
Nama / NPM  : 1. Rida Novira E.  / 36416335      2. Riki Mudakkir  / 36416419      3. Thirafi Syifa Yusrina  / 37416368      4. Yenti Wahyuni Arti / 37416740      5. Yuda Eka Reza Saputra / 38416259      6. Yudhistira Ilhami   / 37416830 Kelompok : 6 (Enam) Kelas  : 4ID06 Dosen  : Dr. IR. Sudaryanto, MSC


JURUSAN TEKNIK INDUSTRI
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS GUNADARMA
2019
ii

KATA PENGANTAR


Puji dan syukur atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmatNya makalah ini dapat dibuat sampai selesai. Tidak lupa juga kami mengucapkan terima kasih atas bantuan dari berbagai pihak yang telah berkontribusi memberikan dukungan moral maupun materi. Harapan kami semoga makalah ini dapat menambah wawasan dan pengalaman untuk pembaca. Karena keterbatasan pengetahuan dan kemampuan kami, kami yakin masih banyak kekurangan dalam makalah  ini, oleh karena itu kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini. 



Depok, 21 Desember 2019


Penulis



iii

DAFTAR ISI
Halaman COVER .................................................................................................................... i KATA PENGANTAR ........................................................................................... ii DAFTAR ISI ......................................................................................................... iii BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ............................................................................... 4 1.2 Rumusan Masalah .......................................................................... 4 1.3 Tujuan Penulisan ............................................................................ 5 BAB II PEMBAHASAN 2.1. Deskripsi Kasus ............................................................................. 6 2.2. Hasil Analisa ............................................................................... 12 2.3. Solusi ........................................................................................... 13 BAB III PENUTUP 3.1. Kesimpulan ................................................................................... 15 3.2. Saran ............................................................................................. 16 DAFTAR PUSTAKA 

 
4

BAB I PENDAHULUAN
1.1    Latar Belakang Masalah Perkembangan zaman yang diiringi oleh kemajuan teknologi mendorong setiap orang yang memiliki profesi untuk meningkatkan kemampuan dalam hal penguasaan teknologi namun juga harus memperhatikan etika profesi. Etika Profesi dalam dunia profesi merupakan pedoman seseorang dalam menjalankan tugas profesinya. Etika profesi ini dapat dikatakan sebagai aturan yang menjadi landasan apa saja yang boleh dilakukan maupun yang tidak boleh dilakukan. Etika profesi bagi engineer (insinyur) digunakan untuk membantu pelaksanaan/implementasi sebagai seseorang yang professional dibidang keteknikan.  Berdasarkan penerapannya di lingkungan kerja, terdapat beberapa contoh pelanggaran etika profesi yang terjadi dan umumnya melibatkan keselamatan kerja maupun konflik kepentingan sehingga memiliki dampak terhadap masyarakat. Salah satu contohnya adalah kasus tumpahan minyak yang terjadi di deepwater horizon rig kawasan lepas pantai teluk meksiko. Kasus tersebut berdampak pada kerusakan ekosistem dan lingkungan, kerugian ekonomi dari masyarakat sekitar maupun kesehatan dan keselamatan pekerja. Berdasarkan kasus tersebut, dilakukan studi kasus dengan cara menganalisis kasus tersebut berdasarkan fakta, implikasi, pelanggaran kode etik yang terjadi serta mencari solusi yang tepat. Harapannya studi kasus tersebut dapat dijadikan pembelajaran mengenai pentingnya etika profesi sebagai preventive ethics yang akan menghindarkan segala macam tindakan yang memiliki resiko dan konsekuensi yang serius dari penerapan keahlian profesional.

1.2 Rumusan Masalah Rumusan masalah berisikan permasalahan yang ada dalam makalah. Adapun permasalahan yang akan di bahas dalam penulisan makalah ini adalah:
5

1. Bagaimana fakta & implikasi/dampak dari contoh kasus toxic spill yaitu kasus tumpahan minyak di teluk meksiko? 2. Apa saja pelanggaran kode etik yang terjadi dalam kasus tersebut? 3. Bagaimana solusinya atas kasus tersebut?

1.3 Tujuan Penulisan Tujuan penulisan merupakan tujuan yang ingin dicapai dalam penulisan makalah ini.Tujuan penulisan adalah: 1. Mengetahui fakta & implikasi/dampak dari contoh kasus toxic spill yaitu kasus tumpahan minyak di teluk meksiko. 2. Mengetahui pelanggaran kode etik yang terjadi dalam kasus tersebut. 3. Mengetahui solusinya atas kasus tersebut.

 
6

BAB II PEMBAHASAN


2.1 Deskripsi Kasus Deepwater Horizon Rig, merupakan sebuah anjungan pengeboran lepas pantai yang dimiliki oleh Transocean. Dibuat pada tahun 2001 oleh Hyundai Heavy Industries. Pada tahun 2001 hingga 2013 disewakan kepada perusahaan minyak BP (British Petroleum). Rig tersebut terletak di kawasan prospek minyak Macondo di Mississippi Canyon, sebuah lembah di landas kontinental yang berada di teluk meksiko. Sumur minyak terletak di dasar laut dengan kedalaman 4.993 kaki (1.522 meter) di bawah permukaan laut dan memanjang sekitar 18.000 kaki (5.486 meter). Kasus ini disebabkan oleh kesalahan pengambilan keputusan dalam kegiatan drilling oleh petroleum engineer. Tragedi meledaknya kilang minyak Deepwater Horizon sendiri diawali oleh munculnya masalah pada pipa bor yang memengaruhi jadwalnya pengerjaan eksplorasi minyak yang mengalami keterlambatan selama 43 hari. Jimmy Harrel sebagai pimpinan proyek (Transocean) memandang bahwasanya terlalu berisiko untuk mempercepat pengerjaan pengeboran minyak. Jimmy ragu pipa-pipa di kedalaman air 5.000 kaki Deepwater Horizon sanggup bertahan tanpa pengetesan yang menyeluruh. Hal ini pun didukung oleh salah satu insinyur handal muda Transocean, Mike Williams. Mike mendukung pertimbangan atasannya dan berusaha meyakinkan pihak British Petroleum bahwa strategi “berharap semuanya akan baik-baik saja” untuk segera melakukan pengetesan tekanan pada pipa dan segera melakukan pengambilan minyak sangatlah berisiko. Ada 126 orang pekerja yang berada di lokasi pengeboran lepas pantai, termasuk tujuh orang dari British Petroleum.  Di lain pihak, Donald Vidrine sebagai perwakilan BP (British Petroleum) memiliki pandangan atau argumen yang berbeda. Donald menginginkan pengetesan ulang tekanan dilakukan dan segera dilakukan eksplorasi minyak. Dasar argumennya adalah telah terjadi “kesalahan pengukuran” terhadap kekuatan sumur sehingga dilakukanlah pengetesan ulang tekanan dan didapatkan hasil bahwa sumur
7

dianggap mampu bertahan/kuat terhadap tekanan. Akhirnya eksplorasi minyak bumi di Deepwater Horizon Rig pun dilakukan. Meskipun awalnya berjalan baikbaik saja, ternyata terjadi penyumbatan pada blowout preventers yang merupakan katup untuk memutus penyedotan minyak dalam keadaan darurat (emergency). Akhirnya, ledakan hebat pada 20 april 2010 pun tak dapat dihindari akibat adanya perbedaan tekanan udara di dalam dan di luar pipa. Setelah 36 jam terbakar, Deepwater Horizon Rig tenggelam pada tanggal 22 April 2010. Kejadian tersebut menewaskan 11 pekerja dan melukai 17 pekerja. Penghentian kebocoran minyak tersebut dilakukan dengan cara penyuntikan lumpur ke dalam sumur, yang dikenal sebagai static kill dan sumur dapat ditutup setelah hari ke 87. Berdasarkan data dari pasukan penjaga pantai AS kebocoran minyak mentah dari Deepwater Horizon Rig sebanyak 8.000 barrel atau 1,3 juta liter sehari dan berlangsung selama 87 hari. BP memperkirakan minyak yang tumpah ke laut sebanyak 1.000-5.000 barel sehari dan total minyak yang bocor diperkirakan mencapai 4,9 juta barel. Berikut adalah Gambar 2.1 Peta Tumpahan Minyak di Teluk Meksiko.

Gambar 2.1 Peta Tumpahan Minyak di Teluk Meksiko

8

Investigasi terhadap tumpahan minyak tersebut dimulai pada Juni 2010 oleh Departemen Kehakiman AS yaitu DOJ (U.S. Department Of Justice). Pada bulan Agustus 2010 hakim pengadilan distrik Louisiana Carl Barbier ditunjuk untuk mengawasi proses konsolidasi terkait dengan tumpahan yang telah mendorong banyak tuntutan hukum dan memicu kerumitan keterlibatan hukum yang kompleks dari pihak swasta maupun publik. DOJ menggugat BP, Transocean, dan Anadarko, pemilik minoritas sumur, di pengadilan sipil New Orleans pada Desember 2010 karena melanggar Undang-Undang Air Bersih dan Undang-Undang Polusi Minyak. Pada awal Maret 2012, BP setuju untuk menyelesaikan klaim yang dibuat oleh panitia pengarah penggugat yang mewakili banyak individu korban tumpahan sebesar $ 7,8 miliar. Dana tersebut selain untuk menutupi kerugian ekonomi yang berkelanjutan setelah tumpahan, juga untuk penyelesaian pembayaran klaim medis yang disediakan untuk 21 tahun pemantauan dan perawatan medis lebih lanjut yang disebabkan oleh timbulnya gejala dan penyakit dari efek tumpahan minyak jangka panjang. Pada bulan November 2012, BP mencapai kesepakatan dengan DOJ untuk menyatakan bersalah atas 14 tuntutan pidana, di antaranya 11 tuduhan pembunuhan berencana, dan pelanggaran tindakan Air Bersih dan Migrasi Burung. Perjanjian tersebut membawa hukuman dan denda sebesar lebih dari $ 4,5 miliar, yang hampir $ 1,26 miliar akan digunakan untuk dana diskresi yang diawasi oleh DOJ, sekitar $ 2,4 miliar untuk National Fish and Wildlife Foundation (NFWF), dan $ 350 juta untuk Akademi Nasional Ilmu Pengetahuan (NAS). BP juga setuju untuk membayar lebih dari setengah miliar dolar kepada Komisi Sekuritas dan Bursa karena menyesatkan para pemegang sahamnya tentang besarnya tumpahan minyak. Kesepakatan itu disetujui pada Januari 2013. Pada November 2012, badan perlindungan lingkungan amerika serika yaitu EPA (Environmental Protection Agency) menangguhkan/melarang BP dari memasuki kontrak baru dengan pemerintah amerika serikat. Penangguhan itu, awalnya dianggap sementara, diperkuat pada Januari 2013. Pada bulan Februari EPA juga mengeluarkan penangguhan terpisah kepada anak perusahaan BP yang telah mengoperasikan sumur, BP Exploration & Production Inc. yang berbasis di
9

Dallas, dengan alasan pelanggaran terhadap UU Air Bersih. Pada Agustus 2013 perusahaan mengajukan gugatan terhadap EPA di pengadilan federal Texas, meminta agar pencabutan dicabut. Hal tersebut tidak diangkat sampai Maret 2014. Pada Januari 2013 Transocean menyetujui hukuman sipil $ 1 miliar di bawah UU Air Bersih. Sekitar $ 800 juta dari jumlah itu dialokasikan untuk proyek restorasi di teluk, dan sisanya dibayarkan kepada pemerintah federal. Perusahaan itu juga menyatakan bersalah atas pelanggaran pidana terhadap Air Bersih, yang mengakibatkan hukuman pidana $ 400 juta. Dari uang itu, $ 300 juta dibagi secara merata antara proyek restorasi yang dikelola oleh NFWF dan sumbangan penelitian keselamatan minyak lepas pantai yang dikelola oleh NAS. Sisanya mendanai perwalian kewajiban untuk diambil pada saat tumpahan nanti. Pada bulan Mei 2015 Transocean menyelesaikan klaim yang dibuat oleh komite pengarah penggugat sebesar $ 211,7 juta. Pada Juli 2013 Halliburton setuju untuk membayar penalti $ 200.000 setelah mengaku bersalah atas tuduhan kriminal bahwa karyawannya telah menghancurkan bukti yang terkait dengan tumpahan. Hal tersebut menyelesaikan klaim dengan komite pengarah penggugat untuk sekitar $ 1,1 miliar pada September 2014. Pada November 2015 Anadarko dinilai bertanggung jawab atas sekitar $ 159,5 juta dalam hukuman sipil untuk perannya dalam bencana. Pada bulan April 2012, dakwaan pidana pertama yang keluar dari bencana diajukan terhadap mantan insinyur pengeboran senior untuk BP. Kurt Mix, yang telah bekerja untuk BP hingga Januari 2012, didakwa di pengadilan federal dengan menghalangi keadilan karena menghapus ratusan pesan teks mengenai laju aliran minyak meskipun telah menerima pemberitahuan hukum untuk menjaga korespondensi. Beberapa pesan yang dipulihkan secara forensik salah satunya berisi perkiraan laju aliran tiga kali lebih tinggi dari yang dibuktikan oleh BP pada saat itu. Dia dinyatakan bersalah pada Desember 2013. Pada November 2012 dua senior di anjungan minyak Deepwater Horizon, Robert Kaluza dan Donald Vidrine, didakwa melakukan pembunuhan. David Rainey, mantan wakil presiden untuk eksplorasi di Teluk Meksiko, dituduh menghalangi Kongres dan membuat pernyataan palsu kepada penegak hukum
10

mengenai tingkat di mana minyak bocor dari rig. Hasilnya sanksi terhadap Kaluza dan Vidrine dijatuhkan pada Desember 2015 atas permintaan penuntutan. Vidrine mengaku bersalah atas tuduhan pelanggaran ringan atas pencemaran berdasarkan Undang-Undang Air Bersih dan pada April 2016 dijatuhi hukuman percobaan, pengabdian kepada masyarakat, dan pembayaran denda. Kaluza mengaku tidak bersalah atas tuduhan yang sama dan dibebaskan pada Februari 2016. Rainey dibebaskan pada Juni 2015.  Pengadilan sipil BP, Halliburton, dan Transocean dimulai pada akhir Februari 2013 di New Orleans. Pengadilan ini dimaksudkan untuk menentukan pertanggungjawaban di bawah Undang-Undang Air Bersih dan Penilaian Kerusakan Sumber Daya Alam berdasarkan Undang-Undang Polusi Minyak, menangani biaya yang tidak tercakup oleh perjanjian penyelesaian sebelumnya. Prosesnya diatur dalam tiga fase. Fase pertama, yang berakhir pada bulan April, adalah untuk menilai sejauh mana ketiga perusahaan itu bersalah. Pada fase ini paling penting adalah perbedaan antara “kelalaian besar” dan “kelalaian”; penunjukan yang pertama akan menghasilkan denda kira-kira empat kali lebih tinggi dari yang dinilai untuk yang terakhir. Fase kedua dari persidangan, yang dimulai pada akhir September, dimaksudkan untuk menetapkan volume minyak yang dikeluarkan oleh tumpahan dan apakah upaya kesiapan dan pengendalian kerusakan dari pihak-pihak yang terlibat sudah memadai. Itu berakhir pada akhir Oktober. Fase ketiga, di mana kerusakan akan ditentukan, selesai pada Februari 2015. Putusan pada fase pertama, diumumkan pada bulan September 2014, menemukan BP menjadi 67% bersalah karena tumpahan dan dengan demikian lalai. Transocean dikenai 30% tanggung jawab dan Halliburton 3% bertanggung jawab, kedua perusahaan tersebut juga dianggap lalai. Putusan pada fase kedua, yang diumumkan pada Januari 2015, menetapkan jumlah minyak legal yang menjadi tanggung jawab pihak-pihak yang terlibat adalah 3,19 juta barel. BP telah mengklaim bahwa sekitar 2,45 juta barel telah bocor, sementara pemerintah AS berpendapat bahwa 4,19 juta barel telah memuntahkan ke dalam jurang. Pada Juli 2015, setelah banding Mahkamah Agung yang ditolak terkait denda maksimum
11

untuk bencana tersebut, penyelesaian sementara dicapai antara BP, pemerintah federal, dan lima negara yang terkena dampak tumpahan, dengan BP memperkirakan bahwa itu akan menelan biaya perusahaan $ 18,7 miliar. Penyelesaian yang diselesaikan sebesar $ 20,8 miliar diumumkan pada Oktober 2015, yang mengakhiri fase ketiga. Itu adalah penalti finansial terbesar yang pernah dilontarkan oleh pemerintah AS terhadap satu perusahaan. Namun, beberapa pengamat mencatat bahwa sebagian besar penyelesaian dapat dihapuskan pada pajak perusahaan sebagai biaya bisnis dan akibatnya mempertanyakan keparahan hukumannya. Penyelesaian ini secara resmi disetujui pada bulan April 2016. Dampak dari tumpahan minyak tersebut terhadap kehidupan fauna di teluk meksiko adalah banyak burung yang mati karena menelan minyak ketika mereka mencoba untuk membersihkan diri mereka sendiri atau karena zat itu mengganggu kemampuan mereka untuk mengatur suhu tubuh mereka. Pelican coklat, adalah salah satu spesies yang paling terpengaruh. Sebuah studi tahun 2014 memproyeksikan bahwa mungkin 12% pelikan coklat dan lebih dari 30% burung camar di daerah yang terkena tumpahan telah musnah. Menurut penelitian lain pada tahun 2014, hingga 800.000 burung diperkirakan mati. Dampak lainnya adalah pada spesies ikan dan invertebrata bertelur di teluk meksiko yang diperkirakan terpengaruh oleh efek tumpahan minyak. Sebuah studi tahun 2014 menunjukkan bahwa larva dari spesies ikan yang penting secara komersial, termasuk tuna, kemungkinan mengembangkan cacat jantung setelah terpapar polycyclic aromatic hydrocarbon (PAHs) dari minyak. Terumbu di luar radius 12 mil (19 km) dari sumur deepwater horizon terpengaruh. Studi laboratorium menunjukkan bahwa minyak dan dispersan membuat reproduksi karang lebih sulit. Larva karang, yang pada awalnya bergerak, melekat pada karang dewasa pada tingkat yang jauh berkurang setelah terpapar zat tersebut. Tumpahan minyak bumi yang bocor dari sumur sebelum disegel membentuk minyak yang membentang lebih dari ribuan mil persegi di Teluk Meksiko. Pembersihan dilakukan dengan menggunakan 1,8 juta galon dispersan yaitu zat yang mengemulsi minyak agar dapat diuraikan oleh bakteri. Upaya pembersihan tersebut dikoordinasikan oleh Tim Respons Nasional, sekelompok lembaga
12

pemerintah yang dipimpin oleh Penjaga Pantai AS dan Lembaga Perlindungan Lingkungan (EPA/Environmental Protection Agency), BP dan Transocean. Patroli pembersihan akhirnya ditutup di Alabama, Florida, dan Mississippi pada Juni 2013 dan di Louisiana pada April 2014. Selain itu juga dilakukan rehabilitasi terhadap fauna yang terpapar efek tumpahan minyak tersebut yaitu dengan cara hewan yang terpapar efek tumpahan minyak dan ditemukan masih hidup diangkut ke pusat rehabilitasi untuk dibersihkan dan dievaluasi secara medis kemudian dilepaskan ke daerah bebas minyak. Berikut adalah Gambar 2.2 Pembersihan Tumpahan Minyak di Lepas Pantai Teluk Meksiko.

Gambar 2.2 Pembersihan Tumpahan Minyak di Lepas Pantai Teluk Meksiko.

2.2 Hasil Analisa Berdasarkan deskripsi kasus tersebut, diperoleh beberapa informasi mengenai kode etik yang dilanggar. Berikut adalah informasi pelanggaran kode etik engineer atau insiyur yang terjadi pada kasus tersebut.  1. Tidak sesuai dengan tuntutan sikap engineer yang senantiasa mengutamakan keselamatan, kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. Hal ini dibuktikan dengan sikap engineer dari British Petroleum (BP) dan Transocean dalam pengambilan keputusan untuk melakukan kegiatan drilling tanpa melakukan pengetesan secara menyeluruh terhadap sumur dan pipa bor
13

sehingga terjadi ledakan dan kebocoran minyak yang berdampak pada keselamatan, kesehatan para pekerja di Deepwater Horizon Rig,  masyarakat maupun fauna yang ada disekitarnya. 2. Tidak sesuai dengan tuntutan sikap engineer yang senantiasa memegang teguh kehormatan, integritas dan martabat profesi serta melanggar prinsip keadilan pada etika profesi engineer. Hal ini dibuktikan dengan sikap engineer pengeboran senior BP yang terbukti di pengadilan federal telah menghalangi keadilan karena menghapus ratusan pesan teks mengenai laju aliran minyak meskipun telah menerima pemberitahuan hukum untuk menjaga korespondensi. Selain itu karyawan Halliburton terbukti menghancurkan bukti yang terkait dengan tumpahan.

2.3 Solusi  Solusi dari kasus tersebut terbagi menjadi dua yaitu solusi pencegahan (preventive) berupa hal-hal yang seharusnya dilakukan agar tumpahan minyak tersebut tidak terjadi serta solusi yang dilakukan untuk menanggulangi tumpahan minyak tersebut (Represive). Solusi pencegahan (preventive) berupa melakukan pengecekan secara menyeluruh sebelum melakukan drilling dengan mempertimbangkan aspek keselamatan dan kesehatan.  Solusi penanggulangan (Represive) yang dilakukan pertama kali adalah upaya penghentian kebocoran minyak dengan cara penyuntikan lumpur ke dalam sumur. Selain itu juga terdapat solusi penanggulangan terhadap fauna yang terpapar efek tumpahan minyak tersebut yaitu dengan cara hewan yang terpapar efek tumpahan minyak dan ditemukan masih hidup diangkut ke pusat rehabilitasi untuk dibersihkan dan dievaluasi secara medis kemudian dilepaskan ke daerah bebas minyak. Solusi penganggulangan terhadap kebersihan perairan yang terkena tumpahan minyak di teluk meksiko adalah dengan cara melakukan pembersihan dengan menggunakan dispersan yaitu zat yang mengemulsi minyak agar dapat diuraikan oleh bakteri. Solusi terhadap masyarakat yang terkena dampak adalah dengan perusahaan memberikan kompensasi berupa uang terhadap kerugian ekonomi yang berkelanjutan setelah tumpahan serta untuk penyelesaian
14

pembayaran klaim medis yang disebabkan oleh timbulnya gejala dan penyakit dari efek tumpahan minyak jangka panjang.

 
15

BAB III
KESIMPULAN


3.1    Kesimpulan Kesimpulan ini dibuat bertujuan untuk merangkum penulisan makalah yang telah dibuat. Kesimpulan ini akan menjawab tujuan penulisan makalah. Berikut ini adalah kesimpulan penulisan. 1. Kasus tumpahan minyak di teluk meksiko disebabkan oleh kesalahan pengambilan keputusan dalam kegiatan drilling oleh petroleum engineer. Permasalahannya diawali dengan tidak dilakukannya pengecekan secara menyeluruh terhadap sumur dan pipa bor sebelum dilakukan kegiatan drilling sehingga saat proses drilling, sumur tidak kuat menahan tekanan serta terjadi penyumbatan pada blowout preventers yang merupakan katup untuk memutus penyedotan minyak dalam keadaan darurat (emergency) sehingga terjadi ledakan dan kebocoran minyak. Dampaknya diperkirakan 4,9 juta barel minyak yang berasal dari 87 hari kebocoran minyak telah mencemari teluk meksiko. Hal tersebut berdampak pada kerusakan ekosistem, kerugian ekonomi dari masyarakat sekitar serta menewaskan 11 pekerja dan melukai 17 pekerja. Hasil dari pengadilan sipil di New Orleans  adalah BP (British Petroleum), Halliburton, dan Transocean adalah pihak-pihak yang bertanggungjawab atas kelalaian tumpahan minyak tersebut dan diharuskan membayar biaya penyelesaian sebesar $ 20,8 miliar dengan presentase BP membayar 67%, Transocean membayar 30% dan Halliburton membayar 3%. 2. Pelanggaran kode etik engineer atau insiyur yang terjadi pada kasus tersebut adalah pertama yaitu tidak sesuai dengan tuntutan sikap engineer yang senantiasa mengutamakan keselamatan, kesehatan dan kesejahteraan masyarakat yang dibuktikan dengan tidak dilakukannya pengecekan secara menyeluruh oleh petroleum engineer sehingga menimbulkan kerugian yang berdampak pada pekerja, masyarakat, lingkungan maupun fauna yang ada
16

disekitarnya. Kedua adalah tidak sesuai dengan tuntutan sikap engineer yang senantiasa memegang teguh kehormatan, integritas dan martabat profesi serta melanggar prinsip keadilan pada etika profesi engineer yang dibuktikan dengan adanya upaya menghalangi keadilan dengan cara menghapus ratusan pesan teks mengenai laju aliran minyak meskipun telah menerima pemberitahuan hukum untuk menjaga korespondensi. 3. Solusi pencegahan (preventive) berupa hal-hal yang seharusnya dilakukan agar tumpahan minyak tersebut tidak terjadi berupa melakukan pengecekan secara menyeluruh sebelum melakukan drilling dengan mempertimbangkan aspek keselamatan dan kesehatan. Solusi penanggulangan (Represive) untuk menanggulangi tumpahan minyak tersebut adalah melakukan upaya penghentian kebocoran minyak, rehabilitasi fauna yang terpapar tumpahan minyak, pembersihan minyak di perairan teluk meksiko, pemberian kompensasi berupa uang terhadap kerugian ekonomi yang berkelanjutan maupun penyelesaian pembayaran klaim medis yang disebabkan oleh timbulnya gejala dan penyakit dari efek tumpahan minyak jangka panjang.

3.2    Saran  Saran adalah masukan yang ditulis oleh penyusun dengan harapan bahwa penulisan maupun penelitian selanjutnya dapat dilakukan dengan lebih baik. Saran yang dapat diberikan oleh penyusun adalah pembahasan studi kasus dengan cara membandingkan dua atau lebih kasus yang serupa diperlukan agar dapat dijadikan pembelajaran.

17

DAFTAR PUSTAKA


https://www.britannica.com/event/Deepwater-Horizon-oil-spill/Environmentalcosts
https://en.wikipedia.org/wiki/Deepwater_Horizon_oil_spill




Komentar